Wednesday, 21 October 2015

Kenangan Yang Terlupakan Cot Bulu Kini



Cot Bulu merupakan salah satu wilayah di Aceh Besar yang berada antara batasan mukim Gani dan mukim Lambaet yang wilayahnya juga tidak begitu luas cuman beberapa hekter yang luasnya memanjang kesemenanjung Babah Juroeng. Bentangan yang di himpun dari Cot Taleuk sampai batasan ke wilayah Cot Puklat serta di iringi dengan Ikuebaet juga masuk dalam denah Cot Bulu ini. Namun kini wilayah ini hanyalah tinggal kenangan dan di rubah nama menjadi Lhok Bulu. Perubahan ini terjadi karena berubah fisik dan fungsinya yang sengaja dilakukan oleh penduduk setempat yaitu sang pemilik wilayah yang yang rata-rata ada warga daerah-daerah yang di sebutkan tadi. Maka dari itu tidak wajar saja warga setempat mendambakan suatu perubahan di daerah hamparan tumbuhan dan rawa-rawa ini.

Dulu Cot Bulu itu di kenal dengan sebutan tempat perasingan karena letak wilayahnya yang jauh dari tempat penduduk. Hanya di siang hari saja ada beberapa warga yang datang kemari untuk bercocok tanam, dan beternak sapi. Saat itu wilayah ini masih sangat hijau dan banyak pohon-pohon besar rindang yang tumbuh serta masih sangat banyak satwa hidup di hutan belantara ini. Semunya masih dalam satu ekosistem yang erotis sangat menakjubkan alam bebas di cot bulu ini.

Di saat itu zaman yang hijau belum tersentuh oleh perubahan global membuat cot bulu sebagai tempat perlindungan bagi hewan liar dan melata. Di pagi hari banyak kicauan burung yang bersiur seling berlomba-lomba dan siangnya di ikuti dengan suara kecer yang merdu juga menjadi kesan bagi mereka yang melewati ataupun yang singgah di bawah rindangnya perpohonan disana. Bahkan dulunya wilayah ini juga pernah menjadi sebuah markas besar untuk TNA yang berjuang untuk Negaranya bersembunyi di belantara hutan rimbun ini melawan prajurit Negera.

DiSore harinya juga kita bisa melihat banyak petani yang bergagas disana dan pengembala yang mengiring sapi atau kerbaunya ke kandang. Sungguh sangat mengagumkan dan suatu keindahan karunia Tuhan untuk penduduk di sekitar Cot Bulu itu. Seiring dengan perkembangan zamanpun terganti suasa disana juga berubah sangat drastis, sudah bertahun-tahun lamanya keadaanpun berubah hingga suatu hari seorang pengusaha perwakilan demi uang yang membeli tanah penduduk untuk di korok dengan iming-iming uang dan Masyarakat mulai tergiur dengan nilai uang yang masa itu masih sangat besar. Semua petani ataupun si pemilik kebun memberikan izin untuk mereka agar tanah mereka di korok untuk di rendahkan dan di ratakan semuanya. Memang sebelumnya wilayah ini tergolong tinggi untuk pernian tanaman seperti padi namun cocok untuk tanaman muda lainnya seperti kacang tanah. Tidak lama setelah semua itu terjadi dengan pengerokan tanah, mobil truk berlalu-lalang disini sampai bertahun lamanya untuk meratakan dan merendahkan wilayah ini. Yang di untungkan para pengusaha dan pemilik tanah hanya mendapat sedikit dari bagian tanahnya yang di korok dan yang di rugikan masyarakat sekitar. Mulai dari pagi sampai sore hanya debu yang di hirup dan apa bila hujan jalannya licin tak bisa di lintasi disinilah yang sangat di sayangkan.

Semenjak saat itu kepopuleran tanah indah ini berganti nama menjadi Lhok Bulu. Semuanya tandus dan tidak bisa di tanami apa-apa lagi kecuali gersang. Pohon kelapa yang dulu menjulang tinggi kini sudah tiada. Pepohonan yang manis buahnya juga telah di robohkan sampai tak tersisa. Para pengembala sudah memindahkan ternak mereka. Kebun yang indah, Sawah yang luas berubah tandus menjadi padang pasir yang kering tanpa air yang mengendap. Semuanya berubah hanya karena pengaruh demi mendapatkan sedikit uang dan mengorbankan alam. Keadaan rimbun sejuk dan adem di masa dulu kala telah berbah menjadi panas bahkan sampai tidak ada lagi tempat berteduh ketika panasnya hari disana. Kini masalah baru mulai bermunculan dan masyarat sang pemilik tanah mulai ribut-ribut tapi itulah manusia.

Setelah sekian lama tandus pemerintah setempat memberikan bantuan sebagai sarana mencari solusi untuk pengairan irigasi di tempat tersebut hingga masyarakat bisa menyemaikan padinya sebagai kebutuhan pangan menompang ekonomi masyarakat. Sampai saat ini wilayah itu sudah di jadikan sawah bagi warga sekitar untuk ditanami padi itupun berlangsung hanya dari beberapa tahun terakhir ini wilayah itu sudah mulai di fungsikan lagi.

Kabar angin yang terdengar wilayah itu untuk kedepannya akan di bangun Villa ataupun perumahan. Jika memang benar di bangun maka harus di timbun lagi pada bagian-bagian tertentu. Itulah manusia yang merusak alam itu dialah sendiri. Cagar alam yang indah yang di berikan oleh nenek moyang telah di runtuhkannya. Sampai saat ini wilayah ini masih di fungsikan sebagai sawah.*

Sumber : dari penulis dan revisi.

0 komentar:

Post a Comment

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.comnya.com tipscantiknya.com
loading...

 
Design by NewWpThemes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com | BTheme.net